IDEAL
INVENTORY CONTROL MODEL
Model inventori yang ideal adalah pola pergerakan stok yang optimal, di mana tingkat inventaris serendah mungkin (tanpa
risiko ketidaktersediaan), pola konsumsi yang
konsisten dan pemasok selalu tepat waktu, namun
model ini jarang dicapai dalam prakteknya.
Suatu model yang ideal
semua diasumsikan bekerja sebagaimana mestinya. Obat dikeluarkan karena
ada permintaan. Stok terus menurun
sampai titik di mana pemesanan harus dilakukan. Stok yang
konsisten memiliki dua komponen, yaitu working
stock dan safety stock (SS). Working stock adalah jumlah persediaan
yang diperlukan untuk semua permintaan obat, nilainya bervariasi dari nol
sampai Q0 dan mewakili stok
yang digunakan untuk memenuhi permintaan
antara masa tenggang pengiriman. Sedangkan
SS adalah jumlah persediaan tambahan yang diperlukan untuk menutupi persediaan antara
waktu pemesan sampai pesanan diterima atau permintaan berlebih, disebut juga buffer stock.
Di dalam model yang
ideal, pemasok melakukan pengiriman sesuai rencana, tiba tepat waktu,
jumlah pesanan (Q0) yang
diterima sesuai dan tingkat persediaan kembali
ke titik maksimum awal lagi (Q0
+ SS). Perlu diperhatikan bahwa dalam model yang ideal, average working stock adalah setengah dari jumlah pesanan:
Average working stock = ½ Q0
Inventori rata-rata (I) adalah
SS ditambah average working stock:
I = SS + ½ Q0
Harga I semakin kecil apabila working stock dan SS kecil nilainya. Harga I yang semakin kecil akan mengurangi biaya inventorinya juga. Namun,
SS yang kecil dapat berakibat stock out. Frekuensi pemesanan yang lama dan dalam
jumlah besar menyebabkan I tinggi. Nilai I dapat dikurangi dengan cara melakukan pemesanan yang lebih sedikit
tapi sering.
Pada ilustrasi model yang
ideal, model pengendalian inventori yang digunakan untuk
mengelola pembelian harus terdiri
dari tiga hal:
1.
Safety stock - seberapa banyak stok akan disimpan untuk cadangan dan mencegah stock
out.
2.
Frekuensi pemesanan - periode
waktu antara setiap pesanan (periode pengadaan).
3.
Jumlah pesanan - jumlah pesanan
ketika pemesanan dilakukan.
Kebijakan menyusun
ulang frekuensi memiliki pengaruh besar pada tingkat stok rata-rata dan biaya persediaan serta pada
tingkat pelayanan.
Tiga model persediaan yang umum digunakan dalam sistem persediaan farmasi,
yaitu:
1.
Tahunan beli (rutin satu
order per tahun).
2. Jadwal pembelian (pesanan periodik pada
waktu yang ditetapkan sepanjang tahun).
3.
Pembelian Perpetual (urutan ditempatkan setiap kali stok menjadi
rendah atau ketika level stok ditentukan ulang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar