Senin, 02 Juli 2012

Manajemen Inventori


IDEAL INVENTORY CONTROL MODEL
Model inventori yang ideal adalah pola pergerakan stok yang optimal, di mana tingkat inventaris serendah mungkin (tanpa risiko ketidaktersediaan), pola konsumsi yang konsisten dan pemasok selalu tepat waktu, namun model ini jarang dicapai dalam prakteknya.

Suatu model yang ideal semua diasumsikan bekerja sebagaimana mestinya. Obat dikeluarkan karena ada permintaan. Stok terus menurun sampai titik di mana pemesanan harus dilakukan. Stok yang konsisten memiliki dua komponen, yaitu working stock dan safety stock (SS). Working stock adalah jumlah persediaan yang diperlukan untuk semua permintaan obat, nilainya bervariasi dari nol sampai Q0 dan mewakili stok yang digunakan untuk memenuhi permintaan antara masa tenggang pengiriman. Sedangkan SS adalah jumlah persediaan tambahan yang diperlukan untuk menutupi persediaan antara waktu pemesan sampai pesanan diterima atau permintaan berlebih, disebut juga buffer stock.
Di dalam model yang ideal, pemasok melakukan pengiriman sesuai rencana, tiba tepat waktu, jumlah pesanan (Q0) yang diterima sesuai dan tingkat persediaan kembali ke titik maksimum awal lagi (Q0 + SS). Perlu diperhatikan bahwa dalam model yang ideal, average working stock adalah setengah dari jumlah pesanan:
Average working stock = ½ Q0
Inventori rata-rata (I) adalah SS ditambah average working stock:
I = SS + ½ Q0
Harga I semakin kecil apabila working stock dan SS kecil nilainya. Harga I yang semakin kecil akan mengurangi biaya inventorinya juga. Namun, SS yang kecil dapat berakibat stock out. Frekuensi pemesanan yang lama dan dalam jumlah besar menyebabkan I tinggi. Nilai I dapat dikurangi dengan cara melakukan pemesanan yang lebih sedikit tapi sering.
Pada ilustrasi model yang ideal, model pengendalian inventori yang digunakan untuk mengelola pembelian harus terdiri dari tiga hal:
1.    Safety stock - seberapa banyak stok akan disimpan untuk cadangan dan mencegah stock out.
2.    Frekuensi pemesanan - periode waktu antara setiap pesanan (periode pengadaan).
3.    Jumlah pesanan - jumlah pesanan ketika pemesanan dilakukan.
Kebijakan menyusun ulang frekuensi memiliki pengaruh besar pada tingkat stok rata-rata dan biaya persediaan serta pada tingkat pelayanan.
Tiga model persediaan yang umum digunakan dalam sistem persediaan farmasi, yaitu:
1.    Tahunan beli (rutin satu order per tahun).
2.    Jadwal pembelian (pesanan periodik pada waktu yang ditetapkan sepanjang tahun).
3.    Pembelian Perpetual (urutan ditempatkan setiap kali stok menjadi rendah atau ketika level stok ditentukan ulang).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar